ini_bakri

JENIS-JENIS KEPEMIMPINAN DAN PENERAPANNYA DALAM MENGATASI MASALAH DALAM ORGANISASI
Laporan Ini Disusun sebagai Salah Satu Syarat dalam Mengikuti Mata Kuliah Pengantar Manajemen
Oleh
Kelompok 2
Nama BP
1. Dwi Satria Pratiwi : 1010511029
2. Silmai Junita :
3. Intan Permata Sari : 1010512041
4. Lika Yuni Permata :
5. Nofia Angraini : 1010512070
6. Wiwin Thamrin :
7. Cahaya Rani : 1010512098

Jurusan Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi
Universitas Andalas
Payakumbuh

BAB I

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “ Kepemimpinan Dalam Organisasi “. Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti mata Pengantar manajemen.
Dalam menyelesaikan karya ilmiah ini penulis banyak sekali mendapatkan bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak oleh karena itu izinkanlah penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih dan kepada Dosen mata kuliah pengantar manajemen dan rekan sesama mahasiswa.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangannya baik dari segi isi maupun dari segi penyusunan kalimat dan tata bahasanya. Untuk itu, penulis bersedia menerima saran dan kritikan yang bersifat membangun dari pembaca demi perbaikan lebih lanjut.

BAB II
DAFTAR ISI

BAB I . KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….i
BAB II . DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….ii
BAB III . PENDAHULUAN
3.1 Latar belakang……………………………………………………………………………….iv
3.2 Identifikasi masalah……………………………………………………………………… iv
3.3 Tujuan………………………………………………………………………………………… v
BAB IV . PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Kepemimpinan……………………………………………………………..1
4.2 Teori Kepemimpinan…………………………………………………………………….3
4.3 Gaya Kepemimpinan……………………………………………………………………13
4.4 Tipologi Kepemimpinan ……………………………………………………………..14
4.5 Tugas dan Peranan Pemimpin……………………………………………………….18
4.6 Karakteristik seorang pemimpin …………………………………………………..19
4.7 Perilaku Pemimpin………………………………………………………………………20
4.8. Pendekatan Perilaku pemimpin……………………………………………………..21
4.9 Memimpin Lingkungan Kerja Baru……………………………………………….22

BAB V KESIMPULAN & SARAN
5.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………………….24
5.2 Saran…………………………………………………………………………………………24

BAB VI PENUTUP
6.1 Daftar Pustaka…………………………………………………………………………..25
6.2 Lampiran………………………………………………………………………………….26

BAB II
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Mungkin tidak ada topik yang lebih penting daripada kepemimpinan dalm hal kesuksesan bisnis pada zaman sekarang. Konsep kepemmpinan terus berkembang ketika kebutuhan organisasi berubah. Diantara semua ide dan tulisan tentang kepemimpinan ada tiga aspek yang menonjol –orang, pengaruh, dan tujuan.
Kepemimpinan muncul diantara orang-orang, melibatkan kegunaan pengaruh, dan digunakn untuk mencapai tujuan-tujuan.Pengaruh berarti hubungan diantara orang –orang tidak pasif. Selain itu, pengaruh didesain untuk mencapai beberapa hasil akhir dan tujuan. Oleh karena itu Kepemimpinan Adalah kemampuan mempengaruhi orang-orang untuk mencapai tujuan organisasional.

1.2 Identifikasi masalah
Pada makalah ini penulis mengidentifikasikan masalh mengenai kepemimpinan diantaranya adalah mendefenisikan kepemimpinan, mengeksplorasi perbedaan-perbedaan antara seorang pemimpin dan manajer dan mendiskusikan sumber-sumber wewenang pemimpin.penulis akan membahas mengenai ciri-ciri, prilaku, dan teori kontijensi efektivitas kepemimpinan serta mendiskusikan tipologi kepemimpinan. Pada bagian akhir penulis membahas mengenai pendekatan-pendekatan kepemimpinan baru terhadap lingkungan kerja pada zaman sekarang ini.

1.3 Tujuan

Agar kita bisa lebih memahami apa itu pemimpin dan apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin juga apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin karena setiap dari kita mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpian merupakan hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari manusia,mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. misalnya saja pada saat anak-anak, ketika berkumpul tiga orang atau lebih anak -anak, kemudian salah seorang di antara mereka “mengajak” teman-temannya untuk melakukan sesuatu seperti main bola atau petak umpet. Pada pengertian yang sederhana anak tersebut telah melakukan “kegiatan memimpin”, karena ada unsur “mengajak” dan mengkoordinasi, ada teman dan ada kegiatan serta sasarannya.

Secara sederhana kepemimpinan merupakan bagaimana mempengaruhi, menetapkan arah dalam mencapai tujuan. Dalam artian lain , kepemimpinan merupakan konsep sempit dari manajemen. secara umum dan penting di ingat adalah sebuah kepemimpinan berarti dapat mengubah sesuatu yang potensial menjadi suatu kenyataan, seorang pemimpin yang berhasil dapat menciptakan visi dan misi serta dapat mengilhami orang lain untuk bekerjasama dengan nya.

Terdapat dua hal penting dari kepemimpianan yaitu :
a. Kepemimpinan sangat berkaitan erat dengan hal mempengaruhi.
b. kepemimpinan adalah bagaimana mempengaruhi orang lain tanpa paksaan

tetapi dalam hal merumuskan pengertian dari kepemimpinan ini, tentu berbeda tergantung dari sudut mana seseorang melihatnya. berikut beberapa definisi dari kepemimpinan:

1] Koontz & O’donnel, mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompoknya.

2] Wexley & Yuki [1977], kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.

3] Georger R. Terry, kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama.

4] Pendapat lain, kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya para ahli tersebut melihat dari sudut pandang bagaimana mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan. namun ada pendapat para ahli lain yang melihat kepemimpinan dari sudut pandang yang berbeda, seperti :
[1] Fiedler [1967], kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan

[2] John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki.

[3] Davis [1977], mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat .

[4] Ott [1996], kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses hubungan antar pribadi yang di dalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan, dan khususnya perilaku orang lain.

[5] Locke et.al. [1991], mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama

4.2 Teori Kepemimpinan.

Bersama Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.
Dalam hal kepemimpinan ini terdapat teori-teori yang mendukungnya, dan tiga diantaranya :
a. teori ciri kepribadian
b. teori prilaku
c.teori situasional injeksi

A. TEORI CIRI KEPRIBADIAN
teori ini melihat apakah seseorang itu mempunyai jiwa kepemimpinan atau tidak. Dengan karakteristik :

-membedakan seorang pemimpin dengan yang bukan pemimpin
-percaya diri
-berwawasan luas dalam berbagai situasi
-mempunyai hasrat untuk memimpin
-jujur
-berintegrasi

kelemahan teori ini
-dalam situasi yang berbeda, maka pemimpin tersebut harus mengubah kepribadianya atau dalam artian ia harus dapat menyesuikan prilaku dan sikapnya.
-seorang yang percaya diri tidak selalu dapat dikatakan pemimpin
-seorang yang ambisius belum dapat dikatakan seorang pemimpin yang efektif
-teori ini hanya menjelaskan ciri-ciri saja

[

B. TEORI PRILAKU
teori ini berdasarkan bagaimana prilaku yang biasa dipakai seorang pemimpin selain itu teori ini juga berpendapat bahwa seorang pemimpin dapat melatih orang yang tepat. Terdapat beberapa penelitian terhadap hal ini ;

1. Universitas negeri ohio
terdapat dua elemen untuk membedakan pemimpin
0. struktu pertimbangan , pemimpin memiliki hubungan pekerjaan yang diarahkan dengan rasa percaya serta dapat menerima saran dan perasaan anggota serta dapat menghormati anggota,
0. segi kepemimpinan , pemimpin disini berkemungkinan mendefinisikan struktur peranya dan karyawannya dalam upaya mencapai tujuan. Misalnya dapat memberi tugas kepada karyawan untuk mencapai tujuan organisasi

2. Universitas manchigan
terdapat dua elemen untuk membedakan pemimpin
0. pemimpin orientasi karyawan , bertumpu pada aspek kebutuhan serta pembedaan individu, pemimpin seperti ini akan membangun hubungan baik dengan organisasi
0. pemimpin orientasi produksi, bertumpu pada aspek teknis, dalam artian jika seorang pimpinan telah memberikan tugas, maka tidak ada dispensasi jika tidak dapat melaksanakan tugas

3. Kisi-kisi manajerial
menjabarkan delapan puluh satu gaya kepemimpinan yang berbeda dalam karyawan dan produksi.

4. Skandinavia
Berpendapat bahwa dunia membutuhkan dimensi baru dalam kehidupan. Pemimpin yang berorientasi pada pengembangan ide-ide baru, inovasi dan implementasi perubahan.

kelemahan teori ini
-faktor pribadi seseorang pemimpin dapat memprngaruhi keberhasilan seorang pemimpin
-teori ini berhasil mengidentifikasikan hubungan yang konstan antara pola prilaku kepemimpinan dan kinerja kelompok, namun tidak mampu menjelaskan faktor-faktor situasi yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin.

C. TEORI SITUASINAL KONTINJENSI
terdapat beberapa model dari teori ini.

1. Model Fielder
Ide dasarnya adlah mencocokkan gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling menguntungkan untuk kepentingannya.
a. Gaya kepemimpinan:
 seorang pemimpin yang berorientasi pada hubungan memerhatikan orang-orang, seperti dalam gaya pertimbangan .
 seorang pemimpin yang berorientasi pada tugas sangat termotivasi oleh penyelesaian tugas.

Penyesuaian antara gaya kepemimpinan dan bagaimana berinteraksi dengan bawahan, pada teori ini ada penyesuaian gaya kepemimpinan seorang pemimpin terhadapm bawahanya, dan situasi ini dipengaruhi oleh gaya tersebut, pada tingkat mana situasi memberikan kendali dan pengaruh kepda pemimpin tersebut.
Pada model ini terdapat dua tindakan yang dilakukan, yang pertama adalah mengidentifikasikan gaya kepemimpinan melalui kuesioner Least Preferd Co-Worker ( LPC) yaitu suatu instrumen untuk mengukur apakah seseorang berorientasi, tugas atau hubungan.

Jika seseorang berorientasi tugas, maka LPC-positif, yang berarti semakin berpikir trehadap rekan kerja atau berorientasi pada rekan kerja.
Namun jika berorientasi hubungan , maka LPC nya akan negatif yang berarti semakin berpikir positif terhadap rekan kerja.
Tindakan yang kedua adalah mendefinisikan sitiasi yang dinilai berdsarkan hubungan seorang pemimpin dengan anggota, tingkat keyakinan , kepercayaan dan hormat bawahan terhadap pemimpin mereka. Selain itu juga mendifinisikan situasi berdasarkan struktur tugas, yakni tingkat prosedure pengorganisasian pekerjaan (berstruktur/tidak berstruktur).
Setelah dihitung LPC dan didefinisikan situasi, akhirnya disesuaikan keduanya.

b. Situasi
 Kualitas hubungan pemimpin – anggota merujuk pada suasana kelompok dan sikap anggota terhadap pimpinanya dan penerimaan pimpinan. Apabila para bawahan mempercayai, menghormati, memiliki keyakinan terhadap pimpinan hubungan pemimpinm- anggota dianggap baik.
 Struktur tugas merujuk pada sejauh mana tugas-tugas yang dikerjakan oleh kelompok didefenisikan, melibatkan prosedur tertentu, dan memiliki tujuan yang jelas dan eksplisit.
 Kekuasaan Posisi yaitu sejauh mana pemimpin memiliki kekuasaan atas bawahannya. Kekuasaan posisi tinggi pada saat pemimpin memiliki kekuasaan untuk merencanakan dan mengatur pekerjaan bagi bawahan, mengevaluasinya, dan memberikan penghargaan atau hukuman untuk mereka.

2. Hershey dan Blanchart
Seorang pemimpin dapat menggunakan satu dari empat dari gaya kepemimpinan, berdasarkan pada kombinasi perilaku hubungan dan tugas:
 gaya memerintah (telling style) mencerminkan perhatiaan yang besar terhadap produksi dan perhatiaan kecil terhadap orang-orang
 gaya menjual (selling style) didasarkan pada perhatiaan besar pada orang-orang dan produksi.
 Gaya partisipasi (participating style) didasarkan pada kombinasi perhatiaan besar terhadap orang-orang dan perhatiaan kecil terhadap produksi.
Gaya mendelegasikan (delegating style) mencerminkan perhatian sedikit terhadap orang-orang dan produksi.
Berdasarkan teori ini maka dapat dikategorikan jenis pengikut dan cara mengatasinya.
 Tingkat kesiapan rendah,. Karyawan tidak mampu dan tidak ingin melakukan tugas, maka seorang pemimpin perlu memberikan alasan khusus . Gaya memerintah cocok dipakai. Ketika seorang atau lebih bawahan menampilkan tingkat kesiapan rendah, pemimpin harus tegas dalam memberi tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh bawahan.
 Tingkat kesiapan sedang, Karayawan tidak mampu namun ingin melaksanakan tugas, maka seorang pemimpin perlu memaparkan orientasi tugas-tugas yang tinggi. Gaya menjual sangat cocok dipakai. Gaya menjual tidak hanya melibatkan pemberian perintah, tetapi juga pencarian masukkan dari orang lain dan pengklarifikasian tugas-tugas daripada sekadar pemberian intruksi bahwa tugas-tugas harus dikerjakan.
 Tingkat kesiapan tinggi, Karyawan yang mampu namun tidak ingin, maka seorang pemimpin perlu mendukung dan memotivasi karyawan,. Gaya yang cocok dipakai adalah partisipasi. Gaya partisipasi memungkinkan pemimpin untuk membimbing perkembangan para bawahan dan bertindak sebai pemberi nasihat dan bantuan.
 Tingkat kesiapan sangat tinggi, Karyawan yang mampu dan ingin, maka pemimpin tidak perlu brbuat banyak. Gaya mendelegasikan bisa digunakan dengan sangat efektif. Karena baawahan mempunyai tingkat kesiapan yang sangat tinggi, pemimpin bisa mendelegasikan tanggung jawab untuk membuat keputusan-keputusan serta implementasinya pada bawahan untuk menyelesaikan tugas.pemimpin memberikan tujuan umum dan kekuasaan yang cukup untuk mengerjakan tugas yang dirasa sesuai oleh bawahan.

Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa

gaya kepemimpinan (k)
pimpinan (p),
bawahan (b)
situasi tertentu (s)

dan gaya kepemimpinan dapat .yang dapat dinotasikan sebagai :

k = f (p, b, s).

Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan.
Adapun situasi menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.
3. Leader Member Exchange (LMX) Theory.
Pengganti (substitute) variabel situasional yang membuat gaya kepemimpinan menjadi tidak ada gunanya atau berlebihan. Sedangkan penetral (neutralizer ) variabel situasional yang meniadakan gaya kepemimpinan dan mencegah pemimpin menampilkan prilaku-prilaku tertentu
Para pemimpin menciptakan kelompok dalam dan kelompok luar. Pada kelompok dalam terdapat karyawan yang memiliki kinerja, memiliki tinhkat pengunduran diri yang rendah dan tingkat kepuasan yang tinggi.

variabel Kepemimpinan yang berorientasi pada tugas Kepemimpinan yang berorientas pada orang-orang
Variabel-variabel organisasional Kelompok-kelompok
Formalisasi
Kekakuan
Kekuasaan posisi yang rendah

Pemisahan fisik

Mengantikan

Mengantikan
Menetralisir

Menetralisir

Menetralisir
Mengantikan

Tidak ada pengaruh
Tidak ada pengaruh

Menetralisir

Menetralisir
Karakteristik-karakteristik tugas Tugas yang sangat terstruktur
Umpan balik otomatis
Kepuasan intrinsik Menggantikan

Menggantikan

Tidak ada pengaruh
Tidak ada pengaruh

Tidak ada pengaruh

menggantikan
Karakteristik-karakteristik kelompok Profesionalisme
Pelatihan/
pengalaman Mengantikan
mengantikan Mengantikan
Tidak ada pengaruh

.Nilai-nilai situasional yang ditampilkan dalam bagan diatas adalah bahwa mereka membantu para pemimpin menghindari penggunaan kepemimpinanya secara berlebihan.Para pemimpin harus menggunakan gaya yang bisa melengkapi situasi organisasional.

4. Path-Goal Theory
Teori ini menyatakan bahwa tugas seorang pemimpin itu adalah memotivasi dan mendampingi karyawan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi, pemimpin juga harus mengarahkan karyawan atau bawahanya. Pemimpin meningkatkan motivasi mereka dengan mengklarifikasikan alur para bawahan untuk mendapatkan penghargaan yang ada atau meningkatkan penghargaan yang dianggap penting dan diinginkan oleh para baawahan . Dijelaskan dalam bagan berikut ini;

Klarifikasi alur Menambah penghargaan-penghargaan

Dua kontijensi situasional yang penting dalam teori alur tujan adalah;
a. Karakteristik-karakteristik pribadi para bawahan meliputi faktor-faktor seperti kemampuan , kebutuhan, dan motivasi. Apabila para bawahan bersifat egosentris pemimpin harus menggunakan penghargaan-penghargaan untuk memotivasi mereka.
b. Kontijensi lingkungan kerja melibatkan tingkat struktur tugas , sifat sistem otoritas formal dan kelompok kerja itu sendiri.

4.3 Gaya Kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.

A. Teori Genetis (Keturunan).
Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.

B.Teori Sosial
Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

C.Teori Ekologis
Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.

Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut,. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.

4.4 Tipologi Kepemimpinan

Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut ;

A.Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
 Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi;
 Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
 Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat;
 Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya;
 Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

B. Tipe Militeristis.
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :
 Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan;
 Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya;
 Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan;
 Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; Sukar menerima kritikan dari bawahannya;
 Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

C. Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :
 Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
 Bersikap terlalu melindungi (overly protective);
 Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan;
 Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
 Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya;
 Sering bersikap maha tahu.

D .Tipe Karismatik dan Visioner
Karismatik dideskripsikan sebagai api yang membakar energi dan komitmen para pengikut, mengeluarkan hasil-hasil diatas dan diluar kewajiban. Pemimpin kharismatik memiliki kemampuan menginspirasi dan memotivasi orang-orang untuk melakukan lenih dari yang biasa mereka l;akukan tanpa terpengaruh oleh rintangan-rintangan dan pengorbanan pribadi.
Para pengikut lebih mementingkan kepentingan departemen atau organisasi diatas kepentingan pribadi . Pengaruh para pemimpin kharismatik biasanya berasal dari:
o Menyatakan visi yang tinggi akan masa depan khayalan yang diidentifikasikan oleh para karyawan,
o Membentuk sistem nilai korporasi yang disetujui semua orang
o Memercayai para bawahan dan mendapatkan kepercayaan penuh dari mereka sebagai balasan.

Pemimpin-pemimpin kharismatik seringkali terampil dalam seni kepemimpinan Visioner. Pemimpin-pemimpin visioner bicara dari hati ke hati pada bawahannya. Visi adalah masa depan yang atraktif dan ideal yang dapat dipercaya tetapi belum tercapai.

Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

Ketika pemimpin-pemmpin kharismatik merespons masalh organisasional dalam bentuk kebutuhan seluruh kelompok daripada kebutuhan emosional mereka sendiri, mereka bisa memiliki pengaruh yang positif dan kuat terhadap kinerja organisasional.

E. Tipe Transformasional
Pemimpin-pemimpin transformasional mirip dengan pemimpin kharismatik, tetapi dibedakan oleh kemampuan khusus mereka untuk mendatangkan inovasi dan perubahan dengan menghargai kebutuhan dan perhatian para pengikut, membantu mereka melihat masalah-masalh lama dalam cara-cara baru dan mendorong mereka untuk mempertanyakan status quo.
Pemimpin-pemimpin transformasional menciptakan perubahanyang significan dalam diri pengikut dan dalam tubuh organisasi .mereka memiliki kemampuan untuk memimpin perubahan dalm misi, strategi, struktur, dan kultur perusahaan juga dalam memajukan inovasi produk dan teknologi. Mereka fokus pada kualitas yang tidak nyata seperti visi, nilai-nilai yang sama, dan ide-ide untuk membangun hubungan-hubungan, memberi arti yang lebih besar pada bermacam-macam aktivitas dan mencari landasan yang sama untuk melibatkan para pengikut dalam proses perubahan.

E .Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia;
2. Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya;
3. Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya;
4. Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan;
5. Ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain;
6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya;
7. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

4.5 Tugas dan Peranan Pemimpin

A. Tugas Pemimpin

James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah:
 Pemimpin bekerja dengan orang lain
Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi.

 Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akontabilitas).
pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafnya tanpa kegagalan.

 Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas
Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif.

 Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual
Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain.

 Manajer adalah seorang mediator
Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah).

 Pemimpin adalah politisi dan diplomat
Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya.

 Pemimpin membuat keputusan yang sulit
Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.

B. Peran Pemimpin

 Peran hubungan antar perorangan,
Dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.

 Fungsi Peran informal
Sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.

Peran Pembuat keputusan,
Berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator

4.6 Karakteristik seorang pemimpin
Didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Coney)

1. Seorang yang belajar seumur hidup
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.

2. Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.

3. Membawa energi yang positif
Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik.

4.7 Perilaku Pemimpin
A. Kepemimpinan Suportif
Melibatkan perilaku pemimpin yg menunjukkan perhatian thd kasejahteraan dan kebutuhan pribadi para bawahan.Perilaku kepemimpinan tsb terbuka,bersahabat,dan ramah.

B. Kepemimpinan direktif
Muncul ketika pemimpin memberi tahu para baswahan apa yg harus mereka kerjakan.perilaku pemimpin meliputi perncanaan,pembuatan jadwal,panentuan tujuan2 kerja&standar2 perilaku serta penekanan ketaatan pada peraturan-peraturan.

C. Kepemimpinan partisipatif
Berarti pemimpin berkonsultasi dg para bawahannya tentang keputusan2.Perilaku pemimpin terdiri atas menanyakan opinidan saran,mendorong partisipasi dlm pembuatan keputusan ,dan menemui para bawahan di lingkungan kerja.

D. Kepemimpinan yg berorientasi pd pencapaian
Muncul ketika pemimpin menentukan tujuan yg jelas dan menantang bagi para bawahan.Perilaku pemimpin menekankan kinerja kualitas tinggi dan peningkatan kinerja saat ini.

4.8 Pendekatan Perilaku pemimpin

Perilaku utama seorang pemimpin itu terbagi dua yaitu:

A. Pertimbangan
Yaitu tipe perilaku yg mendeskripsikan sejauh mana pemimpin sensitif thd para bawahan,menghormati ide-ide dan perasaan mereka,serta membangun kepercayaan mutual.

C. Struktur awal
Yaitu tipe perilaku pemimpin yg mendeskripsikan sejauh mana pemimpin berorientasi pd tugas&mengarahkan aktivitas-aktivitas kerja bawahan untuk mencapai tujuan.

4.9 Memimpin Lingkungan Kerja Baru

Konsep kepemimpinan juga berubah dikarenakan perubahan-perubahn dramastis dalm lingkungan organisasi-organisasi pada saat ini. Globalisasi, E-commerce, organisasi-organisasi virtual dan telekomuting, perubahan perubahan minat dan harapan karyawan, serta perbedaan yang meningkat telah memperbesar perubahn pola fikir dan praktik kepemimpinan .
Empat area minat khusus kepemimpinan di lingkuangan kerjayang baru merupakn konsep baru yang disebut dengan kepemimpinan tingkat lima yang dikemukakan oleh Jim Collins ;
A. Cara memimpin wanita
Fokus untuk meminimalkan ambisi pribadi dan mengembangkan ambisi orang lain juga ditemukan sebagai keadaan yang biasa di antara pemimpin wanita. Ketika dinilai oleh kawan-kawan sebaya, bawahan dan atasa para manajer wanita secara signifikan mendapat nilai yang lebih tinggi daripada pria dalam kemampuan sperti memotivasi orang lain, mengembangkan komunikasi dan mendengarkan. Pendekatan ini disebut kepemimpinan interaktif.

B. Kepemimpinan virtual

Lingungan kerja virtual, dimana para karyawan bekerja jauh dari satu sama lain dan dari para pemimpin, menjadi keadaan yang biasa dalam organisasi-oraganisasi sekarang ini, yang membawakan tantangan-tantangan yang baru.lingkungan kerja saat ini, banyak orang mungkin bekerja dari rumah atu lokasi-lokasi terpencil lainya, yang terikat dengan kantor secara elektronik. Dalam lingkungan virtual, para pemimpin menghadapi ketengangan yang konstan ketika berusaha untuk menyeimbangkan struktur dan akuntabilitaas dengan kredibilitas.mereka harus memberikan struktur dan arahan yang memadai sehingga orang-orang memiliki pemahaman yang jelas mengenai apa yang dihendaki dari mereka . Orang-orang yang unggul sebagai pemimpin-pemimpin virtual cenderung berpikiran terbuka dan fleksibel, menampilkan sifat-sifat positif yang lebih berfokus pada solusi-solusi daripada masalah-masalah dan memiliki keterampilan yang hebat dalam melakukan komunikasi, melatih dan membangun hubungan

C. Kepemimpinan pelayan

Lingkungan kerja yang baru , pemimpin-pemimpin terbaik beroperasi dari asumsi bahwa pekerjaan ada untuk perkembangan pekerja sama seperti pekerja ada untuk pekerjaan. Kepemimpinan pelayan pertama kali di defenisikan oleh Robert Greenleaf, merupakan kepemimpinan yang terbaik karena para pemimpin menomor duakan minatnya untuk melayani orang lain dan organisasi. Pemimpin-pemimpin pelayanan (Servand leaders) beroperasi pada dua tingkat : demi pemenuhan tujuan dan kebutuhan para bawahan dan realisasi tujuan atau misi yang lebih besar organisasi mereka. Pemimpin-pemimpin pelayana memberikan segalanya, kekuasaan, ide-ide, informasi, penghargaan, dan ujian untuk pencapaian-pencapain. Mereka benar-benar menghargai orang lain, mendorong adanya partisipasi, berbagi kekuasaan,menghormati orang lain, komitmen penuh, serta dorongan alami orang-oarng untuk belajar.

BAB V
KESIMPULAN & SARAN

5.1 Kesimpulan

Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mangerjakan sesuatu. Seseorang dikatakan apabila dia mempunyai pengikut atau bawahan.Bawahan pemimpin ini dapat disuruh untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Semakin tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi maka semakin dituntut daripadanya kemampuan berfikir secara konsopsional strategis dan makro. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia akan
semakin generalist, sedang semakin rendah kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia menjadi spesialist.

5.2 Saran

Kepemimpinan yang baik tidak harus terpaku pada apa yang sudah ditentukan, kunci keberhasilan seorang pemimpin hanyalah menjaga kepercayaan para pengikut dan mengunakan kekuasaan itu dengan sebenar-benarnya. Jadi hendaklah kita yang merupakan calon-calon pemimpin ini menggunakan hati, pikiran dan segala usaha untuk memajukan apa yang kita pimpin dan bukan untuk kepentingan pribadi semata.

BAB VI
PENUTUP

6.1 Daftar Pustaka

L. Daft Richard, 2006. Management , edisi keenam. Jakarta: Salemba empat

Siagian, Sondang P, 1979. Peranan staf dalam management. Jakarta: Gunung
Agung.

www.kabarindonesia.com

www.wikipedia.org/kepemimpinan

e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara 12

6.2 Lampiran

This entry was posted on Thursday, June 9th, 2011 at 2:58 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

4 Responses Leave a Reply

    Anonymous said:

    Nov. 20, 2012

    terimakasih atas link nya, saya izin copy yah dengan lengkap.,

    Joe said:

    Jan. 21, 2013

    good……… :)

    Sadar Laia said:

    Oct. 22, 2013

    Terimakasih x, ijinkan q copy paste

    silva siti maryanm said:

    Nov. 4, 2013

    jelke kaya guaa

Leave a Reply